Bahaya Nonton dan Sebarkan Video Penembakan Selandia Baru

Keluarga korban penembakan masjid menunggu di sekitar Masjid An Noor, Kota Christchurch, Selandia Baru. (REUTERS/SNPA/Martin Hunter)


Video penembakan di dua masjid di pusat Kota Christchurch, Selandia Baru yang terjadi pada Jumat (15/3) bertebaran di media sosial. Namun, psikolog klinis memperingatkan setiap orang untuk tidak menyebarkan dan menonton rekaman yang mengerikan itu.

"Ketika menemukan video tersebut, kita tidak perlu ikut menyebarkan dan tidak perlu menontonnya," kata psikolog klinis Linda Setiawati kepada CNNIndonesia.com, Jumat (15/3).

Linda menjelaskan, menonton video mengerikan seperti penembakan itu dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Video itu dapat menimbulkan trauma. Seseorang dapat mengalami trauma melalui dua cara, yakni mengalami kejadian secara langsung dan tidak mengalaminya secara langsung.

"Melihat atau menonton video penembakan bisa menjadi salah satu media yang menyebabkan orang-orang yang menontonnya mengalami indirect trauma, atau yang disebut juga sebagai secondary trauma," ucap Linda yang merupakan psikolog di Personal Growth.

Meski tidak mengalami secara langsung, individu yang mengalami secondary trauma dapat mengalami gejala yang sama seperti orang yang mengalami trauma langsung. Menurut Linda, trauma itu berdampak pada tiga area yakni kognitif, emosional, dan psikologis.

Pada kognitif, seseorang dapat terus menerus membayangkan bagian video yang ditonton. Dari segi emosional, gejala trauma yang muncul dapat berupa perasaan cemas yang meningkat dan perasaan sedih berlebih setelah mendengar situasi yang terjadi.

Perubahan perilaku juga bisa terjadi seperti sulit tidur, sakit kepala, jantung berdetak lebih kencang, dan tidak nafsu makan.

Untuk menghindari gejala ini, Linda menyarankan untuk tidak menyebarkan dan tidak perlu menonton video tersebut.

Jika perasaan cemas mulai intens, Anda dapat membatasi konsumsi berita dan informasi, mengungkapkan perasaan dengan orang terdekat untuk mengurangi rasa cemas, dan mencari pertolongan profesional seperti konselor, psikolog atau psikiater.

Selain itu, menurut Linda, menyebarkan video bukan cara yang baik untuk bersimpati pada korban. "Menyebarkan video malah menunjukkan bahwa kita tidak bisa berempati kepada korban, maupun keluarga korban," kata dia.

Cara lain seperti perhatian dan dukungan kepada korban bisa dilakukan untuk menunjukkan empati. Misalnya saja dengan kalimat-kalimat dukungan yang dikirimkan kepada keluarga korban. (ptj/asr/cnnindonesia)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed with by Way2themes | Distributed by Blogspot Themes